Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Prospek GRAB: Saham Ojek Online Termurah di NASDAQ

Prospek GRAB: Saham Ojek Online Termurah di NASDAQ

Minggu lalu kita sudah membahas tentang bagaimana kita akan bisa tetap profit dari bursa saham Amerika Serikat (US), bahkan jika Indeks S&P 500 (SPX), yang bisa kita sebut sebagai IHSG-nya Amerika, turun di tahun 2025 nanti, karena akan selalu ada saham-saham tertentu yang naik sendiri. Jadi sekarang pertanyaannya, kira-kira apa saja saham tersebut? Nah, penulis sudah mengerjakan screening-nya dan ketemu beberapa nama, salah satunya yang akan kita bahas di artikel kali ini, yang kebetulan nama perusahaannya juga sangat familiar di Indonesia: Grab Holdings Ltd (GRAB). Okay, kita langsung saja.

***

Live Webinar How to Invest in US Stocks, Sabtu 25 Januari 2025, pukul 08.00 – 10.00 WIB. Untuk mendaftar klik disini.

***

Sejarah perusahaan dimulai ketika dua mahasiswa Harvard Business School bernama Anthony Tan dan Hooi Ling Tan, keduanya warga negara Malaysia, memiliki ide untuk membuat aplikasi untuk memudahkan masyarakat memesan mobil taksi secara online. Maka pada tahun 2012 diluncurkanlah aplikasi MyTeksi di Kuala Lumpur, Malaysia, dengan nama badan hukum MyTeksi Sdn. Bhd., dan masih di tahun yang sama perusahaan sudah mampu berekspansi hingga ke hampir seluruh kota-kota besar di Malaysia. Setahun kemudian pada 2013, dalam rangka ekspansi keluar negeri maka perusahaan memindahkan kantornya ke Singapura, dan merk ‘MyTeksi’ diubah menjadi ‘GrabTaxi’ dengan nama badan hukum GrabTaxi Holdings Pte. Ltd., sebelum kemudian masuk ke Singapura itu sendiri, Filipina, dan Thailand, dilanjut pada tahun 2014 GrabTaxi juga memperluas layanannya ke Vietnam, serta Indonesia. Pada tahun 2014 ini pula, GrabTaxi untuk pertama kalinya menyediakan layanan ojek online menggunakan sepeda motor (sebelumnya hanya mobil saja), sehingga sekarang mereka punya dua merk yakni GrabCar dan GrabBike, sebelum kemudian pada tahun 2015 menyediakan jasa pengiriman barang dengan merk GrabExpress. Tahun 2016, GrabTaxi di-branding ulang menjadi ‘Grab’ saja, dan nama badan hukumnya juga berubah menjadi Grab Holdings Ltd dan terdaftar Cayman Islands, albeit kantor operasionalnya tetap di Singapura. Pada tahun yang sama, sang founder Anthony Tan pindah kewarganegaraan dari sebelumnya WN Malaysia menjadi WN Singapura.

Ilustrasi driver Grab.

Oke, lanjut. Tahun 2017, Grab berekspansi ke Kamboja dan Myanmar, sehingga sejak saat inilah layanan Grab resmi tersedia di hampir semua negara-negara di ASEAN kecuali Laos, Brunei Darussalam, dan Timor Leste. Lanjut pada tahun 2018 hingga 2021, Grab secara berturut-turut meluncurkan GrabFood (layanan pengiriman makanan), GrabPay (layanan pembayaran), GrabKitchen, GrabMart, dan seterusnya. Alhasil pada tahun 2021 ini Grab dicitrakan sebagai super-app yang menyediakan banyak layanan yang secara umum dikelompokkan dalam empat kategori: 1. Jasa taksi/ojek online, 2. Jasa pengiriman, 3. Jasa keuangan (termasuk dompet digital OVO di Indonesia), dan 4. Jasa bisnis dan komersial. Masih di tahun 2021 tepatnya pada tanggal 2 Desember, Grab Holdings Ltd resmi melantai di Bursa Nasdaq Amerika Serikat dengan ticker GRAB serta harga perdana $11.89, yang mencerminkan market cap nyaris $40 miliar. However masih di hari yang sama sahamnya langsung nyungsep -21% dan ditutup di posisi $8.75, sebelum kemudian lanjut turun hingga mentok di posisi $2.33 pada bulan Juni 2022, di mana menurut penulis sendiri itu sama sekali tidak mengejutkan karena, terlepas dari pertumbuhan bisnisnya yang sangat pesat, namun GRAB sejak awal merupakan perusahaan yang konsisten merugi saban tahun, dan bahkan sampai tahun 2021 tersebut dia masih rugi. Jadi ya sama saja dengan dengan PT Goto Gojek Tokopedia, Tbk (GOTO) di Indonesia, yang meskipun aplikasi Go-Jek itu sendiri sangat populer disini, tapi tetap sahamnya pada akhirnya jeblok karena perusahaannya sampai sekarang rugi terus.

Kinerja keuangan GRAB: Sudah Turnaround!

Nah, tapi sekarang kita ke bagian menariknya: Selepas bulan Juni 2022 sampai dengan Agustus 2024 kemarin, maka selama dua tahun saham GRAB tidak lanjut turun meski juga belum naik lagi, melainkan bergerak mendatar di rentang $2.50 – 3.50. Dan kemungkinan itu karena investor melihat angka pendapatan perusahaan yang terus naik dari $675 juta di 2021 menjadi $1.4 miliar di 2022, lalu naik lagi menjadi $2.4 miliar di 2023, dan diproyeksi akan menjadi $2.8 miliar di tahun 2024 ini. Sehingga, meskipun di tahun 2021, 2022, dan 2023 tersebut perusahaan masih terus merugi, tapi dengan pendapatannya konsisten bertumbuh maka muncul ekspektasi bahwa GRAB pada akhirnya nanti akan mencetak laba juga, apalagi angka ruginya itu sendiri terus turun dari $3.4 miliar di 2021 menjadi $1.7 miliar di 2022, dan turun lagi menjadi $434 juta di 2023. However karena sampai dengan Q2 2024, perusahaan masih kembali merugi, maka jadilah sahamnya sampai Agustus 2024 masih belum kemana-mana di kisaran $3.00 – 3.50 per saham.

Barulah memasuki bulan September 2024, GRAB pelan-pelan naik hingga sempat menyentuh $3.85 (jadi secara teknikal dia sudah break-out resisten $3.50), dan imbasnya muncul rumor bahwa kenaikan tersebut disebabkan oleh aksi borong investor yang sudah mengetahui bahwa GRAB akan mencetak laba di Q3 2024. Dan ketika GRAB akhirnya merilis laporan keuangannya pada tanggal 11 November 2024, di mana ternyata benar perusahaan untuk periode Q3 2024 tersebut (bulan Juli – September 2024) mampu mencetak laba operasional $22 juta serta laba bersih $26 juta, maka pada saat itu sahamnya langsung naik ke $4.89, atau lompat lebih dari +55% dari posisi terendahnya di bulan Agustus, sebelum kemudian lanjut naik hingga ke posisi $5.18 ketika artikel ini ditulis.

Oke Pak Teguh, jadi kita sudah ketinggalan kereta dong? Well, kabar baiknya meskipun sekarang ini saham GRAB sudah naik banyak, namun dengan PBV 3.3 kali pada harga $5.18, maka valuasinya relatif masih murah dibanding saham sejenis seperti Uber Technologies, Inc (UBER, PBV 8.8 kali), atau Lyft, Inc (LYFT, PBV 9.4 kali). Perlu juga dicatat bahwa seperti halnya GRAB, maka UBER juga dulunya rugi terus sebelum akhirnya cetak laba bersih $1.9 miliar di tahun 2023, dan kembali mencetak laba di tahun 2024 ini, sedangkan untuk LYFT malah belum cetak laba sama sekali. But still, valuasi keduanya jauh lebih tinggi dibanding GRAB.

Sehingga, meskipun penulis juga tidak melihat bahwa GRAB akan naik hingga valuasinya sama seperti UBER dan LYFT (karena GRAB biar bagaimanapun bukan perusahaan Amerika itu sendiri, jadi dia beda dengan UBER dan LYFT), tapi untuk naik hingga PBVnya mencapai 4 – 5 kali atau setara harga saham $6.30 – 7.90 maka itu masih mungkin, yakni jika benar mulai tahun 2025 nanti dan seterusnya perusahaan akhirnya sukses mencetak laba bersih (Catatan: Antara Januari – September 2024 GRAB masih cetak rugi $131 juta, jadi kemungkinan untuk tahun 2024 ini secara keseluruhan dia masih akan rugi). Dan kalau melihat UBER yang ketika untuk pertama kalinya cetak laba bersih di 2023, maka setelah itu dia cetak laba terus, maka penulis juga optimis bahwa GRAB akan kembali cetak laba bersih di Q4 2024 nanti dan seterusnya, dan tentunya sahamnya akan lanjut naik. Dalam hal ini penulis juga ingat dengan saham SoFi Technologies, Inc (SOFI), yang juga merupakan perusahaan start up teknologi yang tiap tahun rugi melulu, jadi ya otomatis sahamnya juga turun. Namun setelah pada Q4 2023 lalu SOFI untuk pertama kalinya cetak laba bersih yang kemudian berlanjut di tahun 2024 ini, maka sahamnya akhirnya lompat dari hanya $6.32 di bulan Agustus 2024 hingga sekarang sudah $15.90, dan kemungkinan masih akan lanjut naik karena bahkan pada harga sahamnya saat ini, PBV SOFI masih 2.7 kali.

Anyway kembali ke GRAB, yang sayangnya PBVnya tidak semurah PBV SOFI ketika penulis menemukannya untuk pertama kali pada harga $6, yakni hanya 1.2 kali, melainkan PBV GRAB pada saat ini sudah mencapai 3.3 kali seiring kenaikan harga sahamnya yang memang cukup signifikan (lebih dari 50%) ke posisi $5.18. Jadi bahkan kalaupun benar sahamnya lanjut naik hingga mencapai target $7.90 di atas, maka potensi profitnya hanya 52% saja, alias tidak sampai bagger seperti halnya SOFI kemarin. Di sisi lain jika kinerja perusahaan tidak sesuai harapan/labanya berbalik jadi rugi lagi di Q4 2024 nanti, dan tetap ada risiko itu terjadi, maka tentu saja sahamnya batal naik dan justru akan berbalik turun, mungkin bahkan hingga balik lagi ke rentang $3.00 – 3.50, sehingga ruginya akan lumayan jika anda beli sahamnya pada harganya saat ini.

Therefore, kalau anda berminat masuk ke GRAB ini maka berikut strateginya. Pertama, kenaikan GRAB dalam tiga bulan terakhir harusnya sudah price in (selaras) dengan kinerja fundamental serta prospeknya yang saat ini sudah lebih baik, yakni setelah perusahaan untuk pertama kalinya mencetak laba di Q3 2024 kemarin. Yang itu artinya, sahamnya tidak akan lanjut naik lagi dalam waktu dekat dan mungkin bisa saja justru turun sedikit ke posisi $4.50 – 5.00, bahkan jika perusahaan kembali cetak laba di Q4 2024 nanti. Kedua, jika perusahaan benar kembali cetak laba di laporan keuangannya untuk periode Q4 2024 (yang akan rilis bulan Februari 2025 nanti), maka pada saat itulah ekspektasi bahwa GRAB akan cetak laba mulai tahun 2025 dan seterusnya akan semakin menguat, dan sahamnya akan sudah naik duluan sebelum perusahaan merilis LK-nya untuk periode Q1 2025, pada bulan Mei 2025.

Jadi dengan demikian anda sekarang bisa masuk ke GRAB, usahakan pada harga $5.00 atau dibawahnya, lalu nanti masuk lagi pada sekitar bulan Februari 2025, dalam hal ini jika harga sahamnya masih berada di rentang $4.50 – 5.50 (tapi jika di atas itu maka jangan dikejar lagi), dan setelah itu hold saja sampai setahun ke depan dengan target $7.90 itu tadi. Semoga beruntung!

***

Live Webinar How to Invest in US Stocks, Sabtu 25 Januari 2025, pukul 08.00 – 10.00 WIB. Untuk mendaftar klik disini.

Dapatkan postingan terbaru dari blog ini via email. Masukkan alamat email anda di kotak dibawah ini, lalu klik subscribe

Penyebab IHSG Turun, dan Prospek Saham Indonesia di 2025

Penyebab IHSG Turun, dan Prospek Saham Indonesia di 2025

Hingga Jumat, 27 Desember 2024, IHSG ditutup di posisi 7,037, turun -3.2% dihitung sejak awal tahun 2024 atau year to date (YTD). Sedangkan kalau kita lihat Indeks LQ45 yang lebih mencerminkan arah pasar, maka turunnya lebih dalam lagi yakni -15.0% secara YTD. Menariknya baru saja pada Juni - September lalu IHSG naik banyak hingga sukses mencetak all time high di level 7,905, sebelum kemudian balik arah dan turun terus sampai sekarang. Nah, jadi sebenarnya apa yang terjadi?

***

Ebook Market Planning edisi Januari 2025 yang berisi analisis IHSG, rekomendasi saham, info jual beli saham, dan update strategi investasi bulanan sudah terbit. Anda bisa memperolehnya disini, gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio untuk member, dan tersedia diskon selama IHSG masih di bawah 7,500.

***

Dan kalau anda baca penjelasan analis maka mereka akan menunjuk sejumlah sentimen negatif di dalam negeri, misalnya kenaikan PPN menjadi 12% mulai tahun 2025 nanti yang dikhawatirkan akan berdampak negatif terhadap perekonomian. Namun demikian penulis memperhatikan beberapa hal sebagai berikut. Pertama, IHSG tidak turun sendirian, melainkan indeks-indeks saham di negara Asia Tenggara, meski tidak semuanya, juga banyak yang turun, dan menariknya penurunannya juga dimulai pada bulan September atau Oktober. Misalnya FTSE Malaysia yang turun dari 1,684 hingga mentok di 1,589, sebelum kemudian naik ke posisi sekarang di 1,628. Atau Stock Exchange of Thailand (SET) Index yang turun dari 1,495 hingga mentok 1,365, sebelum kemudian rebound ke 1,401. Dan VN Index Vietnam turun dari 1,291 hingga 1,217, sebelum kemudian naik lagi ke 1,275. Sedangkan di luar Asia Tenggara, maka ada Bombay Stock Exchange Sensex yang turun dari 85,572 ke 78,700, HangSeng HongKong turun dari 23,100 ke 20,090, dan Kospi Korea Selatan turun dari 2,891 hingga sekarang 2,405.

Kedua, kalau turunnya berbarengan seperti itu maka biasanya terdapat peristiwa tertentu yang bersifat global yang kemudian berdampak terhadap penurunan pasar saham di Asia secara keseluruhan, tidak hanya Indonesia. Dan kalau di Indonesia sendiri maka peristiwanya cukup jelas, yakni aksi jual asing secara terus-menerus yang persisnya juga dimulai pada pertengahan September sampai hari ini, di mana hanya dalam tiga bulan terakhir saja (Oktober, November, dan Desember) asing sudah mencatat net sell Rp38.5 triliun di pasar reguler. Situasi di Bursa Malaysia juga sama, di mana data per bulan November 2024 menunjukkan bahwa institusi asing menjual saham senilai 24.5 miliar Ringgit Malaysia, lebih besar dibanding aksi belinya senilai RM21.5 miliar, sehingga net sell-nya RM3.0 miliar atau setara Rp11 triliun hanya dalam sebulan. Untuk bursa-bursa saham lainnya belum kami cek, tapi penulis perkirakan investor asing di sana juga sama jualan. Sebab jika kita lihat kurs mata uang di negara yang bersangkutan terhadap US Dollar, maka seperti halnya Rupiah yang sempat menguat sampai Rp15,125 di bulan September tapi setelah itu berbalik melemah hingga terakhir Rp16,230 per Dollar, maka Ringgit Malaysia, Thailand Baht dst juga hampir semuanya melemah terhadap Dollar sejak September, dan biasanya itu karena investor asing ramai-ramai jual saham dan/atau aset keuangan lainnya, lalu hasil penjualannya dikonversi menjadi Dollar.

Sehingga kita sekarang ke poin ketiga: Kenapa asing ramai-ramai keluar dari pasar saham Asia pada waktu yang hampir bersamaan? Well, penyebabnya tentu bisa apa saja, tapi kemungkinan salah satunya adalah untuk dibelikan surat berharga negara Amerika Serikat aka Treasury Bond, dalam hal ini jika treasury bond tersebut menawarkan yield (bunga) yang tinggi. Dan memang sejak September kemarin sampai sekarang, US 10 YearTreasury Bond Note Yield naik dari 3.6% hingga terakhir 4.6%. Sehingga, meski memang bunga 4.6% per tahun kelihatannya kecil, namun bunga tersebut dibayar dalam Dollar yang merupakan mata uang paling powerful di dunia, serta dijamin langsung oleh Pemerintah US sehingga 100% aman, jauh lebih aman dibanding investasi saham di negara emerging market seperti Indonesia yang, meski di satu sisi menawarkan potensi profit yang lebih besar dibanding sekedar 4.6%, namun di sisi lain risiko kerugiannya juga jauh lebih besar.

Bond Yield Naik: Anomali

Lanjut keempat, apa penyebab treasury bond yield naik? Nah kalau menurut tulisan sejumlah analis, itu karena adanya kekhawatiran bahwa suku bunga Fed Rate, yang sejak September lalu turun dari 5.50% hingga sekarang 4.50%, kedepannya tidak akan turun lebih rendah lagi mengingat tingkat inflasi US yang masih belum kembali turun, melainkan mentok di 2.5%. Sebelumnya perlu dicatat bahwa treasury bond yield normalnya bergerak selaras dengan fed rate, dimana jika fed rate naik maka yield ikut naik, dan sebaliknya jika fed rate turun maka yield ikut turun. Namun sejak September kemarin terjadi situasi anomali di mana meski fed rate turun dari 5.50% ke 4.50%, tapi yield justru naik dari 3.6% menjadi 4.6%. Sehingga kemudian muncul teori di atas: Treasury bond yield naik meskipun fed rate turun karena adanya kekhawatiran bahwa fed rate kedepannya tidak akan turun lebih rendah lagi.

Pergerakan fed rate (grafik hijau) dibandingkan dengan treasury bond yield (grafik biru) dalam sepuluh tahun terakhir. Perhatikan bahwa kedua grafik hampir selalu naik dan turun secara bersamaan, kecuali sejak September 2024 lalu (kotak hitam) di mana fed rate turun dari 5.50% ke 4.50%, tapi yield sebaliknya naik dari 3.6% ke 4.6%.

Meski demikian penulis punya teori lain, sebagai berikut: Sebenarnya, naik turunnya treasury bond yield tidak berhubungan langsung dengan fed rate melainkan dipengaruhi oleh tingkat permintaan terhadap bond itu sendiri, di mana jika permintaannya meningkat maka harganya naik dan alhasil yield-nya turun, dan sebaliknya jika permintaannya berkurang maka harganya turun dan alhasil yield-nya naik. Sebagai ilustrasi, anda beli bond dengan harga dasar $100 dan bunga 3%, pada harga diskon $97 karena permintaannya sedang turun. Maka total yield-nya akan naik menjadi $3 + $3, sama dengan $6 atau sekitar 6%. Di waktu yang lain anda beli bond yang sama tapi pada harga premium $101 karena permintaannya sedang naik. Maka total yield-nya akan turun menjadi -$1 + $3, sama dengan $2 atau sekitar 2%. 

Sehingga, ketika treasury bond yield sedang naik seperti sekarang maka itu menunjukkan bahwa permintaan investor terhadap bond itu sendiri sedang turun, and why is that? Jawabannya adalah karena saham-saham US yang sejak tahun 2023 lalu sudah naik tinggi, sejak September 2024 kemarin naik lebih tinggi lagi di mana Indeks S&P 500 lompat dari 5,408 hingga sempat tembus 6,000, kemungkinan karena hasil poll ketika itu yang menunjukkan bahwa Donald Trump akan memenangkan pilpres (dan benar Trump menang di bulan November). Dan tidak hanya itu: Pasar crypto juga meroket di mana bitcoin (BTC) untuk pertama kalinya tembus level historis $100,000, dan bahkan harga emas dunia juga sama terbang tinggi.

Karena itulah, berbeda dengan periode-periode bullish di masa lalu, di periode bullish kali ini investor memiliki banyak pilihan instrumen selain saham dan semuanya naik banyak, dan alhasil US treasury bond dengan yield hanya 3 – 4% per tahun tentu saja menjadi sepi peminat, but still, yield segitu tetap lebih menarik dibanding investasi saham di emerging market termasuk Indonesia karena dianggap berisiko tinggi, dan itulah kenapa asing disini terus jualan. Mungkin perlu juga dicatat bahwa ketika investor asing jualan dari pasar saham Indonesia, Malaysia dst, maka tentu tidak semua dananya kemudian dialihkan ke US treasury, tapi bahkan kalaupun semuanya dialihkan kesitu maka tetap tidak akan membuat permintaannya meningkat/yield-nya turun, karena sejak awal para fund manager besar ini hanya berinvestasi dalam jumlah kecil saja di pasar saham Indonesia dkk (di Indonesia asing hanya belanja atau sebaliknya jualan senilai belasan hingga puluhan triliun Rupiah atau setara $2 – 3 miliar per tahun, aka jauuuuuh lebih kecil dibanding perputaran uang di pasar saham US, yang totalnya mencapai lebih dari $40 triliun per tahun). Jadi kalau bagi para investor asing ini, semuanya win-win solution: Uang Dollar hasil jualan saham Indonesia dkk bisa ditempatkan di saham US, crypto, dan emas, atau bisa juga dibelikan US treasury bond untuk memperoleh yield lumayan di level 4.6% per tahun. However aksi jual mereka seketika membuat IHSG kita, dan juga indeks-indeks saham lainnya di banyak negara Asia, untuk turun signifikan sejak September lalu.

Pasar Saham US Akan Turun

Anyway, ketika selama ini naik turunnya yield selaras dengan naik turunnya fed rate, maka itu juga ada penjelasannya sebagai berikut: Fed rate biasanya diturunkan dalam situasi ekonomi resesi atau krisis, misalnya seperti pada pandemi Covid di awal tahun 2020 lalu di mana fed rate turun dari 2.50% ke 0.25%, yang bertujuan untuk menstimulus pertumbuhan ekonomi. Kemudian dalam situasi krisis atau resesi yang mana tentunya terjadi kepanikan, maka instrumen investasi apa yang paling diminati investor? Ya tentu saja US treasury bond, karena cuma itu instrumen yang risikonya nol. Jadi itulah kenapa treasury bond yield biasanya ikut turun ketika fed rate turun, yakni karena dalam situasi resesi maka investor akan ramai-ramai membeli bond itu sendiri, dan alhasil yield-nya turun.

Nah, tapi dalam situasi saham US, crypto, hingga emas semuanya naik seperti sekarang, maka tentu saja tidak ada sentimen bahwa Amerika sedang krisis, sama sekali, dan itulah kenapa terjadi situasi anomali di mana treasury bond sepi peminat/yield-nya naik, padahal fed rate sudah mulai turun. Meski demikian dalam beberapa kesempatan penulis sudah menyebut bahwa saham US pada akhirnya nanti akan turun, dan biasanya pada saat itulah bakal ramai lagi cerita Amerika krisis bla bla bla, dan imbasnya treasury bond yield juga akan turun, dan asing akan tidak punya pilihan lain selain kembali masuk ke emerging market termasuk Indonesia, terutama jika mereka akhirnya menyadari bahwa valuasi saham-saham disini sudah sangat undervalue, apalagi jika dibandingkan valuasi saham Nvidia (NVDA) dkk. Intinya, yep, situasi pasar keuangan global saat ini memang sedang anomali. Tapi seperti halnya anomali-anomali lainnya yang pernah terjadi dalam sejarah, maka situasi anomali kali inipun tidak akan bertahan lama.

Problemnya, kita tentu tidak bisa menebak kapan persisnya pasar saham US akan turun, di mana Warren Buffett sendiri sudah sejak awal 2024 lalu mengumpulkan cash, tapi nyatanya Indeks S&P 500 (SPX) justru naik terus. But still, penulis tidak melihat bahwa SPX akan kembali naik banyak di tahun 2025 ini setelah hanya dalam dua tahun terakhir naik total lebih dari 50%, melainkan kemungkinan besar dia akan turun 15 – 20%, sama seperti tahun 2022 lalu (catatan: Bagi anda yang sudah mulai invest di saham US maka tidak usah khawatir karena kita bisa tetap profit bahkan jika SPX turun, dan penjelasannya bisa dibaca disini). Atau gak usah jauh-jauh deh, baru saja Juni - September kemarin IHSG naik terus kan? Ketika itu juga sama karena asing belanja banyak. Therefore, seperti halnya tahun 2022 lalu di mana mayoritas investor saham Indonesia profit besar terutama dari saham-saham komoditas, maka penulis percaya di tahun 2025 nanti harga-harga saham akan kembali pulih. Benar atau tidak, kita lihat mulai Januari nanti.

***

Ebook Market Planning edisi Januari 2025 yang berisi analisis IHSG, rekomendasi saham, info jual beli saham, dan update strategi investasi bulanan sudah terbit. Anda bisa memperolehnya disini, gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio untuk member, dan tersedia diskon selama IHSG masih di bawah 7,500.

Dapatkan postingan terbaru dari blog ini via email. Masukkan alamat email anda di kotak dibawah ini, lalu klik subscribe

Ebook Investment Planning Q3 2024 - Sudah Terbit!

Ebook Investment Planning Q3 2024 - Sudah Terbit!

Penulis (Teguh Hidayat) di acara Berkshire Hathaway Annual Meeting 2022 di Omaha, Nebraska, Amerika Serikat, yang dihadiri langsung oleh investor legendaris Warren Buffett.

Dear investor, seperti biasa setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat Ebook Investment Planning (EIP, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham-saham pilihan, yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan para emiten untuk periode Q3 2024. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading jangka pendek, investasi jangka menengah, dan panjang.

Seperti ebook edisi-edisi sebelumnya, penulis bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan dalam menyeleksi saham-saham yang akan dibahas di ebook ini, dimana kriteria ini dibuat berdasarkan kaidah value investing.

  1. Sahamnya likuid, sehingga pergerakannya bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal sederhana (diluar analisis fundamental, kami juga memperhatikan faktor teknikal, situasi pasar, dll). Kalaupun tidak terlalu likuid, maka minimal jangan sampai tidak likuid sama sekali.
  2. Bukan saham gorengan. Ciri-ciri saham gorengan adalah mudah naik dan turun secara drastis dalam waktu singkat tanpa penyebab yang jelas, sedangkan perusahaannya sendiri berkinerja buruk dan bermasalah. Contoh saham gorengan Hanson International (MYRX), Trada Alam Minera (TRAM), Sugih Energy (SUGI), dst. Jadi ebook ini secara tidak langsung membantu anda menghindari saham-saham berbahaya tersebut.
  3. Memiliki kinerja fundamental yang bagus, reputasi baik, prospek cerah, dan diutamakan perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya.
  4. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan, serta memiliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
  5. Valuasinya undervalue/murah. Dalam kondisi pasar yang belum sepenuhnya pulih dari resesi seperti sekarang, maka kami juga memasukkan sejumlah saham-saham dengan valuasi yang amat sangat murah, yang berpeluang untuk naik hingga ratusan persen (saham-saham multibagger), ketika nanti periode resesinya berakhir.

Ebook ini berisi analisis terhadap 30 saham pilihan, lengkap dengan tingkat rekomendasi (beberapa saham mungkin lebih direkomendasikan dibanding saham lainnya), tingkat risiko untuk tiap-tiap saham, harga beli yang disarankan, serta target harganya jika ada. Seluruh analisa di ebooknya ditulis dengan gaya bahasa yang lugas dan to the point. Jadi jika anda bisa memahami analisa saham yang disampaikan disini, maka anda juga akan bisa menyerap isi ebooknya dengan baik. Ebooknya sudah terbit pada bulan November 2024, dan bisa anda pesan disini, tersedia gratis tanya jawab konsultasi investasi saham langsung dengan penulis.

Screenshot tampilan ebooknya, salah satu edisi sebelumnya.

Mengapa Anda Membutuhkan EIP ini?

  1. Pekerjaan wajib bagi investor dan fund manager profesional adalah membuat investment planning dengan cara mencari saham-saham bagus termasuk ‘mutiara terpendam’ (saham yang berpeluang naik 100% atau lebih, dalam waktu 1 tahun atau kurang), dengan melakukan screening kinerja laporan keuangan terbaru perusahaan, menganalisis fundamental serta valuasi dari saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham apa saja yang layak beli baik itu untuk tujuan investasi jangka pendek, menengah, dan panjang, dan sebaiknya beli di harga berapa, termasuk (jika ada) menentukan target harganya. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada kami sebagai profesional, sehingga anda tinggal membaca hasilnya saja.
  2. Biayanya sangat terjangkau, jauh lebih kecil dibanding akumulasi trading fee, pajak penjualan, dan bea meterai yang otomatis anda bayarkan melalui sekuritas setiap kali anda melakukan transaksi.
  3. Satu-satunya produk analisa saham paling independen dan paling terpercaya di Indonesia yang sudah terbit sejak tahun 2010, dan sampai sekarang konsisten terbit setiap 3 bulan sekali tanpa pernah absen sekalipun, yang artinya pembacanya selalu ada, bahkan ketika pasar/IHSG sedang krisis. Buku investment planning ini merupakan panduan wajib bagi semua pelaku pasar mulai dari investor retail, analis, broker saham, hingga fund manager/investor institusi.
  4. Ditulis langsung oleh Teguh Hidayat, praktisi dan penulis value investing pertama di Indonesia (sejak tahun 2010) dengan track record kinerja investasi yang terbukti baik, dan dengan gaya bahasa yang sangat mudah dipahami bahkan bagi investor pemula sekalipun.
  5. Tersedia Layanan Eksklusif: Setelah membaca ebooknya nanti, anda juga boleh konsultasi portofolio atau minta pendapat serta analisa yang lebih spesifik via email untuk saham-saham tertentu, baik itu yang dibahas di dalam ebooknya atau tidak, langsung dengan penulis (Teguh Hidayat).
***

Sekali lagi, untuk memperoleh ebooknya maka baca infonya disini. Ada pertanyaan? Kontak WhatsApp 082110011100 (Yanti). Atau anda bisa hubungi penulis langsung (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com, dengan subjek Tanya EIPTersedia pula EIP edisi sebelumnya (Q2 2024), tentunya pada harga diskon.

Penting: Ebook Investment Planning ini hanya dijual melalui www.teguhhidayat.com, dan tidak dijual melalui Tokopedia atau tempat lain manapun. Jika anda menemukan ebook ini di ecommerce, baik sebagian maupun seluruhnya, maka itu bukan kami (Teguh Hidayat/Avere Investama), melainkan pihak lain yang menjual secara ilegal. Hati-hati. Nomor kontak WhatsApp resmi kami juga hanya 082110011100 (Yanti), dan tidak ada nomor lain.


Prospek Saham FUTU, Perusahaan Broker Terbesar di Hong Kong, Singapura, dan Malaysia

Prospek Saham FUTU, Perusahaan Broker Terbesar di Hong Kong, Singapura, dan Malaysia

Sebagai investor, seiring perkembangan teknologi maka kita sekarang ini bisa mengerjakan analisa, menyusun strategi, dan melakukan transaksi jual beli saham dan/atau aset keuangan lainnya dengan hanya menggunakan ponsel, melalui satu aplikasi broker/sekuritas yang sudah kita pilih, dan alhasil ada banyak perusahaan broker yang kemudian meraup keuntungan besar seiring dengan terus meningkatnya minat masyarakat untuk berinvestasi di saham dll. Nah menariknya, sebagai investor maka kita juga bisa berinvestasi di saham perusahaan broker itu sendiri, dalam hal ini jika perusahaannya berstatus Tbk., dan jika kinerja serta prospeknya bagus, tentu saja. Dan disini kita akan bahas salah satunya yang lolos screening penulis: Futu Holdings Ltd (FUTU). Oke kita langsung saja.

***

Mulai tahun 2025 Avere Investama meluncurkan program US Stocks Copytrade di mana anda bisa mengikuti saham-saham US apa saja yang kami beli, hold, dan jual, lengkap dengan analisa serta strateginya. Info lengkap baca disini.

***

Futu Holdings Limited adalah perusahaan teknologi keuangan (fintech) asal Hong Kong, China, yang bergerak di bidang jasa broker saham, crypto, obligasi, options, dan perdagangan berjangka (futures), jasa pendidikan/pelatihan investasi, jasa wealth management, jasa margin financing (pemberian pinjaman untuk investor yang hendak beli saham, dengan jaminan saham itu sendiri), hingga jasa solusi penyelenggaraan IPO untuk pelanggan korporasi. Atau simpelnya, FUTU ini perusahaan sekuritas. Sejarah perusahaan dimulai pada tahun 2012 ketika Leaf Hua Li, seorang pengusaha internet dan pengembang aplikasi asal Hong Kong, memperoleh lisensi broker saham dari Hong Kong Stock Exchange (HKEX). Maka diluncurkanlah aplikasi trading saham online dengan nama Futubull, dan nama badan hukum Futu Securities Ltd. Dua tahun kemudian pada 2014, perusahaan mendapatkan pendanaan dari tiga investor besar yakni Tencent, Matrix Partners, dan Sequoia Capital, yang segera digunakan untuk ekspansi, salah satunya dengan membuka layanan broker untuk saham Amerika Serikat (US) sehingga investor pengguna Futubull tidak lagi hanya bisa berinvestasi pada saham-saham Hong Kong, tapi juga pada saham-saham US. Pada tahun ini juga berdiri Futu Holdings Ltd di Cayman Islands, yang dijadikan induk dari Futu Securities Ltd di Hong Kong, albeit kantor operasionalnya tetap di Hong Kong, sebagai bagian dari rencana perusahaan untuk go international. Kemudian perusahaan juga meluncurkan layanan wealth management untuk klien high net worth individuals dari seluruh China, dilanjut membuka layanan distribusi saham, jasa investor relations, dan solusi penyelenggaraan employee stock option program (ESOP) untuk perusahaan yang hendak IPO di HKEX.

Lanjut pada tahun 2018, Futubull sudah menjadi salah satu aplikasi broker saham dengan jumlah pengguna terbesar di Hong Kong, namun klien penggunanya masih terbatas di China, dan bahasa yang digunakan di aplikasinya juga memang Bahasa Mandarin. Maka pada tahun inilah, perusahaan meluncurkan aplikasi trading saham berbahasa Inggris dengan nama moomoo di US, dan di tahun yang sama memperoleh lisensi broker dari US Securities and Exchange Commission (SEC). Tahun 2019, perusahaan melantai di Nasdaq Stock Exchange pada harga perdana $12.00 per saham, dengan ticker FUTU. Lalu antara tahun 2021 hingga 2024, moomoo secara berturut-turut melebarkan sayap ke Bursa Saham Singapura, Australia, Jepang, Malaysia, dan terakhir Kanada. Selain menyediakan layanan trading saham, maka pada tahun 2023 dan 2024 perusahaan bekerja sama dengan Nasdaq dan New York Stock Exchange (NYSE) untuk menyediakan pelatihan investasi bagi Warga Negara Amerika, serta berkolaborasi dengan Cboe Global Markets untuk menyediakan layanan perdagangan options.

Okay, lalu kenapa FUTU ini menarik? Karena ini nih: Hingga pada tahun 2024 ini, maka per Q3 2024 kemarin, Futubull sudah menjadi aplikasi trading saham dengan jumlah pengguna terbesar di Hong Kong, sedangkan aplikasi moomoo juga sudah menjadi yang terbesar dari sisi daily active users di Singapura dan Malaysia, dan masuk top three of most downloaded trading apps di Jepang, Australia, dan Kanada. Dan berbeda dengan kebanyakan startup broker saham lainnya yang labanya masih kecil atau bahkan rugi, maka meski FUTU ini juga awalnya sama ‘bakar duit’ bahkan hingga ekuitasnya negatif, namun sudah sejak tahun 2018 lalu perusahaan sukses mencetak laba, yang angkanya terus bertumbuh secara konsisten sampai hari ini. Berikut kinerja perusahaan selengkapnya sejak tahun 2016 s/d 2024, angka dalam jutaan Hong Kong Dollar (HK$). Klik gambar untuk memperbesar.

Oke, perhatikan: Dari angka-angka di atas maka jelas tampak bahwa peluncuran aplikasi moomoo di tahun 2018 menjadi pemicu utama lompatan perusahaan, di mana FUTU mencetak pendapatan yang tumbuh hampir 10 kali lipat dibanding dua tahun sebelumnya (2016), demikian pula total asetnya tumbuh hampir 4 kali lipat, dan perusahaan untuk pertama kalinya mampu cetak laba meski masih kecil, hanya HK$37 juta. Lompatan berikutnya terjadi di tahun 2021 di mana aset perusahaan tembus HK$101.5 miliar, dan laba bersihnya HK$2.8 miliar, thanks to booming pasar modal US pasca pandemi Covid di mana Indeks S&P 500 (SPX) melejit +28.7%, yang menyebabkan ada banyak orang membuka rekening untuk membeli saham US, termasuk lewat moomoo. Memasuki 2022, SPX berbalik jeblok -18.1%, dan demikian pula nilai aset FUTU ikut turun menjadi HK$94.5 miliar, mayoritas karena penurunan nilai investasi (selain menjadi broker saham maka FUTU juga ikut berinvestasi di saham itu sendiri), namun laba bersihnya mampu untuk tetap naik tipis menjadi HK$2.9 miliar. Dan begitu pasar pulih lagi di tahun 2023 dan 2024, maka seperti yang bisa anda lihat di atas, angka nilai aset, ekuitas, pendapatan, hingga laba bersih perusahaan semuanya kembali bertumbuh seperti biasanya.

Kemudian kalau secara operasional, maka per Q3 2018 lalu (ketika perusahaan akan IPO), aplikasi Futubull dan moomoo milik FUTU memiliki 5.3 juta pengguna (users), 457 ribu klien terdaftar, 124 ribu klien berbayar, nilai transaksi HK$678 miliar, nilai aset milik klien HK$54 miliar, dan penyaluran pinjaman HK$4 miliar. Dan enam tahun kemudian pada Q3 2024, perusahaan sudah memiliki 24.1 juta pengguna, 4.3 juta klien terdaftar, 2.2 juta klien berbayar, nilai transaksi HK$1.9 triliun, nilai aset milik klien HK$695 miliar, dan penyaluran pinjaman HK$41 miliar. Dan kesemua pertumbuhan itu tidak dicapai begitu saja, melainkan selaras dengan ekspansi terus menerus yang dilakukan oleh manajemen. Misalnya, di sepanjang tahun 2024 ini FUTU berinvestasi HK$440 juta di Airstar Bank, sebuah bank digital di Hong Kong, meluncurkan layanan perdagangan crypto untuk klien Hong Kong, dan membuka beberapa outlet (FUTU Store) di sejumlah lokasi di Hong Kong. Untuk kedepannya perusahaan juga akan: 1. Meluncurkan program pemasaran baru untuk meraup lebih banyak klien di Hong Kong dan Singapura, 2. Membuka layanan perdagangan options dan money market funds di Malaysia, 3. Menambah jumlah klien berbayar hingga 2.4 juta klien pada akhir tahun 2024.

FUTU = Growth Stock

Kesimpulannya, FUTU ini termasuk growth stock yang perusahaannya bisa diharapkan akan terus bertumbuh baik dari sisi kinerja keuangan maupun operasional, selaras dengan perkembangan pasar modal itu sendiri terutama di US (dari nilai transaksi HK$1.9 triliun pada aplikasi Futubull dan moomoo di periode Januari – September 2024, maka HK$1.5 triliun di antaranya merupakan transaksi saham US), dan memang harga sahamnya sendiri sudah naik sangat signifikan dari $12 ketika IPO-nya pada tahun 2018, hingga sekarang tembus $84, atau naik persis tujuh kali lipat dalam waktu enam tahun. Ingat pula bahwa jumlah investor saham US di negara-negara di mana FUTU beroperasi (Hong Kong, Singapura dll) masih relatif kecil, jadi peluang pertumbuhannya masih terbuka lebar. Lalu meskipun terdapat risiko bahwa pertumbuhan tersebut akan melambat atau berbalik turun, yakni jika pasar saham US/Indeks S&P 500 kedepannya turun seperti di tahun 2022 lalu, namun laba bersih FUTU terbukti mampu untuk tetap tumbuh tipis di tahun 2022 tersebut, dan alhasil sahamnya juga hanya turun tipis dari $43.3 menjadi $40.65, tak peduli meski SPX anjlok -18.1% di tahun yang sama.

Kemudian dari sisi valuasi, maka meskipun seperti disebut di atas, saham FUTU sudah naik banyak sejak IPO-nya di tahun 2018, namun karena kenaikan tersebut selaras dengan pertumbuhan ekuitas dan juga laba bersih perusahaan, maka pada pada harga saham $84.40, PBV-nya masih reasonable di 3.2 kali. Sebagai perbandingan, saham dari perusahaan broker populer lainnya seperti Robinhood (HOOD), Interactive Brokers (IBKR), dan Charles Schwab (SCHW) di hargai pada PBV masing-masing 4.7, 4.6, dan 3.6 kali. Demikian pula kalau dari sisi traling PER, di mana dengan PER 20.5 kali maka FUTU tetap lebih murah dibanding tiga kompetitornya di atas. Mungkin perlu juga ditambahkan bahwa IBKR dan SCHW sudah dianggap sebagai perusahaan besar dan mapan (mature) sehingga tidak lagi menawarkan pertumbuhan yang signifikan dalam jangka panjang. Sedangkan HOOD meski juga masuk kategori growth stock, tapi sampai 2023 lalu perusahaannya masih merugi, dan baru mulai cetak laba di tahun 2024 ini.

Sehingga jika anda tertarik dengan FUTU ini, maka berikut strateginya: Meskipun valuasi FUTU relatif lebih murah dibanding HOOD, IBKR, dan SCHW, namun dengan PBV lebih dari 3 kali maka FUTU tentunya tidak bisa disebut benar-benar murah, dan penulis lebih suka masuk pada PBV 2.0 – 2.5 kali, setara harga saham $66 atau dibawahnya. Dan memang baru saja pada Agustus 2024 kemarin, saham FUTU masih berada di level $60, sebelum kemudian lompat ke posisi sekarang seiring kenaikan Indeks Nasdaq itu sendiri. Sehingga kalau kita baru masuk di harga sekarang, maka itu mungkin sudah agak terlambat. Sedangkan jika besok-besok pasar saham US berbalik turun, dan terdapat peluang yang cukup besar bahwa itu akan terjadi (nanti kita akan bahas lengkap soal ini), maka normalnya FUTU juga akan turun hingga maksimal ke $55 – 60, dan disitulah kita akan masuk sebelum kemudian hold saja sambil menunggu perusahaan merilis laporan keuangan berikutnya, di mana jika kinerjanya kembali bertumbuh seperti biasanya, maka sahamnya akan kembali terbang dengan mudah. Untuk targetnya sendiri di PBV 4 kali atau setara harga saham $110 – 125, bergantung pada perkembangan ekuitas perusahaan dalam 1 – 2 tahun mendatang.

Oke Pak Teguh, tapi bagaimana kalau Indeks S&P500 dan Nasdaq tidak juga turun, dan demikian pula saham FUTU tidak mau turun? Well, jika demikian maka penulis sendiri akan lebih memilih saham lain yang sudah dan/atau akan dibahas di blog ini, di mana kami sendiri di Avere Investama masih terus mengerjakan screening-nya untuk menemukan saham-saham US terbaik. Just stay tune!

***

Jadwal Seminar Tatap Muka How to Invest in US Stock, Jakarta, Sabtu 18 Januari 2025, pukul 11.00 – 17.00 WIB. Untuk mendaftar klik disini, tersedia diskon bagi yang mendaftar sebelum tanggal 1 Januari 2025.

Dapatkan postingan terbaru dari blog ini via email. Masukkan alamat email anda di kotak dibawah ini, lalu klik subscribe

Peluang Profit dari Perusahaan Otomotif Terbesar Keempat di Dunia

Peluang Profit dari Perusahaan Otomotif Terbesar Keempat di Dunia

Ketika tiga hari lalu kita membahas prospek saham Grab Holdings Ltd (GRAB) di Bursa Amerika Serikat (US), padahal GRAB itu sendiri bukan perusahaan US melainkan Singapura, maka sebenarnya penulis sekaligus hendak menunjukkan bahwa di pasar saham US itu kita tidak hanya bisa berinvestasi pada saham dari perusahaan US saja, melainkan juga dari perusahaan-perusahaan terbesar di seluruh dunia. Nah, jadi setelah dari Singapura sekarang kita beralih ke Eropa, untuk membahas satu perusahaan yang juga merupakan salah satu yang terbesar di dunia di bidangnya: Stellantis NV. Okay kita langsung saja.

***

Jadwal Seminar Tatap Muka How to Invest in US Stock, Jakarta, Sabtu 18 Januari 2025, pukul 11.00 – 17.00 WIB. Untuk mendaftar klik disini, tersedia diskon bagi yang mendaftar sebelum tanggal 1 Januari 2025.

***

Stellantis NV (STLA) adalah perusahaan yang, meski sebagian besar investor mungkin belum tahu itu perusahaan apa, namun per akhir 2023 lalu merupakan pemain otomotif terbesar keempat di dunia dari sisi nilai pendapatan, di belakang Toyota, Volkswagen Group, dan Hyundai Group. STLA adalah pemilik dari banyak merk-merk mobil populer di Eropa seperti Fiat, Maserati, Peugeot, dst. Perusahaan berdiri pada tahun 2021 sebagai hasil merger antara dua raksasa otomotif Eropa, yakni Fiat Chrysler Automobiles NV (FCA) asal Italia, dan Peugeot SA asal Perancis. FCA sendiri berdiri pada tahun 2012 juga sebagai hasil merger antara Fiat SpA asal Italia, dan Chrysler Group asal Amerika Serikat. Sehingga Stellantis merupakan gabungan antara dua perusahaan otomotif terbesar di Italia dan Perancis, plus satu perusahaan otomotif salah satu yang terbesar di US, dan itulah kenapa meskipun perusahaan terdaftar dan berkantor pusat di Eropa, tepatnya di Belanda, namun mereka juga memegang merk-merk mobil populer asal US seperti Chrysler, Jeep, dan Dodge. STLA terdaftar di tiga bursa saham sekaligus yakni Borsa Italiana, Euronext Paris, dan New York Stock Exchange atau NYSE (dan kita bisa beli sahamnya melalui NYSE ini), dan menjual produk-produknya ke seluruh dunia termasuk Jeep dan Maserati di Indonesia. STLA dipimpin oleh John Elkann yang merupakan cucu dari mendiang Gianni Agnelli, pemilik dari Fiat Group dan klub sepakbola Juventus FC. Dan Mr. Elkann adalah juga chairman di Ferrari NV (RACE), perusahaan pemilik merk mobil sport Ferrari yang terkenal itu, yang juga dimiliki oleh Keluarga Agnelli namun tidak ditempatkan di bawah STLA.

Oke, lanjut, dan sekarang kita bahas tentang sektor otomotif itu sendiri. Kalau anda perhatikan, dalam beberapa tahun terakhir ini di seluruh dunia termasuk Indonesia, kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) sudah mulai menggantikan kendaraan berbahan bakar minyak, dan banyak yang memprediksi bahwa kedepannya semua mobil dan motor bensin akan ‘punah’ sama sekali, digantikan oleh EV. Dan dalam hubungannya dengan pasar modal US, maka imbasnya investor lebih menyukai saham-saham dari perusahaan EV seperti Tesla, Inc (TSLA), Rivian Automotive, Inc (RIVN), dan Nio, Inc (NIO), ketimbang perusahaan otomotif tradisional seperti Toyota Motor Corp (TM), General Motors Co (GM), dan Ford Motor Co (F) yang dianggap sudah ‘ketinggalan jaman’, dan itulah kenapa valuasi saham TSLA dkk jauh lebih mahal dibanding TM dkk. Karena meskipun Toyota dkk juga ikut masuk ke pengembangan EV, tapi progress-nya sejauh ini tidak secepat yang dikerjakan oleh Tesla dkk, yang sejak awal sudah langsung fokus ke EV saja.

Nah, lalu bagaimana dengan STLA? Well, sebagai gabungan dari Fiat, Peugeot, dan Chrysler yang tiga-tiganya merupakan perusahaan otomotif lawas, maka STLA juga masuk grup ketinggalan jaman itu tadi, dan itulah kenapa valuasi sahamnya selama ini juga sama murah. However setelah perusahaan pada Semester I 2024 mencatat laba bersih €5.6 miliar, anjlok -48.3% dibanding periode yang sama tahun 2023 sebesar €10.9 miliar, maka jadilah sahamnya jeblok dari $29.40 pada bulan Maret 2024 lalu, hingga sekarang tinggal $13.86. Nah, tapi berapa valuasi STLA kalau pada harga sahamnya sekarang? Cuma PBV 0.47 kali. Sebagai perbandingan ketika artikel ini ditulis, PBV Toyota tercatat 1.02 kali, General Motors 0.81 kali, dan Ford 0.93 kali.

Sehingga, bahkan jika dibandingkan dengan valuasi Toyota dkk, maka valuasi STLA ini tetap jauh lebih murah meski memang itu ada penjelasannya, yakni karena laba bersihnya anjlok tadi. Tapi dari sini kita bisa lihat pula bahwa jika di tahun 2025 nanti laba STLA kembali naik seperti biasanya (sebelum turun di tahun 2024 ini, maka antara tahun 2020 dan 2023 laba bersih STLA konsisten naik terus), maka sahamnya akan naik dengan mudah karena valuasinya yang sudah sangat terdiskon itu tadi. Dan ingat pula bahwa diluar penurunan kinerja keuangannya, maka STLA tidak mengalami masalah apapun dan masih tetap beroperasi bikin mobil seperti biasa.

Jadi pertanyaannya sekarang ada tiga. Pertama, sebenarnya apa penyebab kinerja STLA tiba-tiba turun di tahun 2024 ini? Kedua, apakah di 2025 nanti kinerja tersebut berpeluang untuk tumbuh lagi? Terakhir ketiga sekaligus yang terpenting, apakah STLA ada upaya pengembangan ke EV juga?

Dan jawabannya bisa kita temukan di laporan keuangan perusahaan. Pertama, penurunan laba bersih STLA disebabkan oleh kombinasi dari 1. Penurunan pendapatan sebesar -13.6% imbas dari penurunan volume pengiriman kendaraan terutama untuk pasar di Kawasan Amerika Utara dan Eropa, yang disebabkan oleh keterlambatan produksi dan penyesuaian persediaan (inventory adjustment), karena adanya transisi dari aktivitas produksi kendaraan bensin ke EV, dan 2. Kenaikan biaya restrukturisasi termasuk pengurangan jumlah karyawan, yang dalam jangka panjangnya bertujuan untuk efisiensi.

Kedua, soal apakah labanya bisa naik lagi di 2025 nanti, maka sayangnya tidak ada petunjuk ke arah tersebut, malah ada kemungkinan pendapatan perusahaan akan kembali turun justru karena adanya transisi ke EV itu tadi, yang sejauh ini cukup sukses di mana hingga akhir Oktober 2024, STLA sudah menjadi pemimpin industri EV di Eropa dengan pangsa pasar 35.7%, menggeser Volkswagen Group. Dan ketiga, apakah STLA ada bikin mobil EV juga, maka itu sudah dijawab di atas: Ada, tapi itu justru bikin kinerja perusahaan turun. Sebenarnya kalau untuk jangka panjang hingga tahun 2030, maka STLA sudah memiliki blue print yang terangkum dalam presentasi berjudul Dare Forward 2030, di mana perusahaan mentargetkan pendapatan €300 miliar (berbanding $190 miliar di tahun 2023), laba bersih €30 miliar (berbanding €18 miliar di tahun 2023), dan memproduksi 100% mobil EV untuk pasar Eropa, serta 50% mobil EV untuk pasar Amerika Utara. Namun dalam perjalanannya maka meskipun secara operasional STLA sudah sukses menjadi market leader EV di Eropa, namun pendapatan dan labanya secara keseluruhan justru turun lumayan drastis di 2024 ini. Sehingga kalaupun kita optimis bahwa STLA akan bisa mencapai target jangka panjangnya di atas, namun dalam jangka pendek dan menengahnya maka terdapat risiko penurunan kinerjanya di 2024 ini akan berlanjut di 2025 nanti.

STLA Bakal Bayar Dividen Jumbo??

Nah, tapi sekarang kita ke bagian menariknya. Pertama, terlepas dari penurunan kinerjanya di tahun ini namun saham STLA juga memang sudah turun, dan sudah price in (selaras) penurunan kinerja tersebut. Sehingga kalau di LK berikutnya untuk tahun penuh 2024 yang akan dirilis bulan Februari 2025 nanti perusahaan menunjukkan perbaikan kinerja, dan tetap ada peluang untuk itu, maka sahamnya akan naik lagi dengan mudah. Kedua, kalau melihat keseriusan upaya manajemen untuk masuk ke industri EV, maka STLA secara sentimen lebih mirip dengan Tesla dkk ketimbang Toyota dkk, dan cuma soal waktu sebelum investor menyadari hal itu, plus bonus kualitas fundamental yang biar bagaimanapun masih lebih bagus dibanding Rivian atau Nio yang sampai hari ini masih bakar duit.

Ketiga, manajemen sudah berkomitmen untuk membayar dividen sebesar setidaknya €6.7 miliar atau setara lebih dari $2 per saham, kemungkinan bulan April 2025 nanti, yang mencerminkan yield 14% berdasarkan harga sahamnya saat ini, which is very, very large! Dan keempat, sejak Februari 2024 lalu manajemen sudah mengalokasikan €3 miliar untuk buy back saham di mana sampai dengan bulan Juni-nya mereka sudah menggunakan €2 miliar diantaranya, jadi masih ada sisa €1 miliar lagi. Dan meskipun aksi buy back ini tidak mencegah sahamnya untuk turun, tapi ini jelas menunjukkan bahwa pihak pemilik STLA sendiri cukup optimis dengan prospek jangka panjang perusahaan. Dan kalau mereka berani beli saham STLA pada harga $20 – 30 (harga saham STLA antara bulan Februari dan Juni 2024), maka kenapa kita gak berani beli saham yang sama tapi pada harga $13 saja??

Kesimpulannya, well, jika berdasarkan pertimbangan dividennya saja, maka terdapat peluang STLA akan rebound ke posisi $15 – 17, yang mencerminkan upside 8 – 22% dari harganya saat ini, dan tentunya dia bisa naik lebih tinggi dari itu jika pada laporan keuangan terbarunya yang dirilis Februari 2025 nanti perusahaan mencatatkan kinerja yang lebih baik dari saat ini, mungkin bisa sampai $19 – 20. Kemudian kalau melihat pergerakan harga sahamnya di moment pembayaran dividen sebelumnya di bulan April 2023 dan April 2024 lalu, di mana sahamnya akan sudah naik banyak beberapa bulan sebelum pembayaran dividennya itu sendiri, maka waktu terbaik untuk masuk adalah sekarang (bulan Desember), lalu keluarnya justru di bulan Maret atau April 2025 nanti, sehingga kita tidak ambil dividennya, tapi kita akan dapat capital gain yang nilainya justru lebih besar dari sekedar $2 per saham. Penulis sendiri sering menerapkan strategi seperti ini pada saham-saham dengan dividend yield besar di Indonesia, yang sudah pernah saya jelaskan disini.

Anyway, risikonya disini adalah jika pada Februari 2025 nanti, STLA melaporkan kinerja yang turun lebih dalam lagi dibanding saat ini, dan itu bisa bikin sahamnya lanjut turun bahkan jika pada saat itu manajemen sudah mengumumkan dividennya. Di sisi lain jika dibandingkan dengan SoFi Technologies Inc (SOFI) atau Grab Holdings Ltd (GRAB) yang kita bahas kemarin, maka potensi profit di STLA ini relatif tidak besar, maksimalnya hanya sampai 40% saja yakni jika sahamnya naik ke $19 – 20, dan untuk saat ini juga tidak ada opsi untuk hold sahamnya untuk jangka panjang (baca: Anda harus jual lagi sahamnya pada bulan April 2025 nanti), kecuali jika di LK 2025-nya nanti labanya berbalik naik. Jadi jika anda berminat maka gunakan dana secukupnya saja.

***

Mulai tahun 2025 Avere Investama meluncurkan program US Stocks Copytrade di mana anda bisa mengikuti saham-saham US apa saja yang kami beli, hold, dan jual, lengkap dengan analisa serta strateginya. Info lengkap baca disini.

Dapatkan postingan terbaru dari blog ini via email. Masukkan alamat email anda di kotak dibawah ini, lalu klik subscribe

Saya Sudah Invest di Saham US, Tapi Bagaimana Jika Dow Jones Crash??

Saya Sudah Invest di Saham US, Tapi Bagaimana Jika Dow Jones Crash??

Ketika penulis mulai berinvestasi di saham-saham Amerika Serikat (US) beberapa waktu lalu, maka ada satu pertanyaan yang mengganjal: Kita tahu bahwa New York Stock Exchange (NYSE) dan juga Nasdaq sudah bubble di mana valuasi saham-saham mega caps di sana sudah sangat mahal dengan PER mencapai puluhan kali, jauh lebih mahal dibanding misalnya ASII atau BBRI di Indonesia, dan memang Warren Buffett sendiri kemarin sudah profit taking dari Apple (AAPL) dan mengumpulkan cash, sehingga ia secara tidak langsung mengatakan bahwa pasar saham US akan turun. Nah, jadi bagaimana jika Indeks S&P500, Dow Jones, dan Nasdaq besok-besok beneran turun atau bahkan crash? Bukankah jika demikian maka kita sebaiknya jangan dulu belanja saham?

***

Jadwal Seminar Tatap Muka How to Invest in US Stock, Jakarta, Sabtu 18 Januari 2025, pukul 11.00 – 17.00 WIB. Untuk mendaftar klik disini.

***

Dan penulis sendiri butuh waktu cukup lama untuk menjawab pertanyaan di atas, tapi sekarang saya sudah punya jawabannya. Aaaand here we go!

Pertama, seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, meski betul bahwa valuasi AAPL sekarang ini sudah mahal dengan PER lebih dari 35 kali, dan demikian pula saham-saham the magnificent seven yang lain juga sudah overvalue semua, tapi itu bukan berarti semua saham di NYSE/Nasdaq sudah mahal, melainkan banyak juga yang masih relatif murah. Contohnya yang sudah pernah dibahas disini seperti SoFi Technologies, Inc (SOFI), dan Alibaba Group (BABA), di mana kedua saham tersebut masih dihargai pada PBV kurang dari 3 kali. Jadi betul bahwa AAPL dkk sudah mahal dan karena itulah kita jangan beli sahamnya, tapi itu bukan berarti kita tidak bisa beli atau hold saham lain yang valuasinya masih terdiskon. Contohnya balik lagi ke Opa Warren, di mana meski betul saham AAPL sudah dijual sebagian, tapi ia diketahui masih hold saham The Kraft Heinz Co. (KHC). Dan berapa PBV KHC ini? Well, cuma 0.8 kali pada harga $31.0 per saham. Dan meski PER-nya mencapai 27.8 kali, tapi forward PER-nya juga hanya 9.9 kali, which is clearly undervalue, meski juga perlu dicatat bahwa Berkshire Hathaway (BRK) berstatus sebagai pemegang saham pengendali di KHC, jadi Opa Warren mungkin memang tidak bisa menjual sahamnya.

Kedua, mahalnya valuasi saham-saham di NYSE/Nasdaq juga tercermin dari kenaikan Indeks S&P500 (SPX) yang sangat tinggi di sepanjang tahun 2024 ini, yakni mencapai +28.4% hingga penutupan 6 Desember kemarin, dan jika dilihat lebih jauh ke belakang maka SPX juga sudah naik total lebih dari +90% dihitung sejak Desember 2019 lalu, demikian pula Nasdaq Composite Index (IXIC), dan Dow Jones Industrial Average (DJI), masing-masing sudah naik +127.4% dan +58.7% dalam lima tahun terakhir.

Nah, tapi tahukah anda bahwa masih ada satu lagi indeks penting yang kenaikannya sama sekali belum setinggi tiga major indexes yang disebut di atas? Yup, indeks tersebut adalah Russell 2000 Index (RUT), yang mencerminkan pergerakan dari 2,000 saham small caps (saham dengan market cap kurang dari $2 miliar) di US yang sudah dipilih berdasarkan kriteria tertentu, albeit sejumlah saham mid caps dengan market cap lebih besar dari $2 miliar juga ikut masuk perhitungan indeksnya, dan itu adalah karena ketika ada saham small caps yang naik tinggi hingga market cap-nya menjadi lebih dari $2 miliar maka sahamnya tidak serta merta dikeluarkan dari indeks. Nah, tapi intinya kalau anda cek lagi, maka RUT secara keseluruhan baru naik 47.1% dalam lima tahun terakhir, dan alhasil ada banyak saham komponen RUT ini yang secara valuasi masih murah, bahkan jauh lebih murah jika dibanding valuasi AAPL dkk. Jadi tugas kita tinggal seleksi lagi saham-saham di kategori small caps ini, yang mana di antara mereka yang memiliki kinerja fundamental bagus serta prospek cerah.

Okay Pak Teguh, tapi valuasi murah saja tidak jadi jaminan sahamnya tidak akan turun kan? Buktinya pada tahun 2022 lalu ketika SPX, IXIC, dan DJI semuanya turun masing-masing -19.4%, -33.1%, dan -8.8%, maka RUT juga sama jeblok -21.6%. Nah, kabar baiknya bahkan dalam situasi bear market seperti di tahun 2022 lalu maka tidak semua saham US turun, melainkan banyak juga yang naik sendiri, dan biasanya kenaikannya memang selaras dengan valuasinya yang masih murah, kinerja bagus, dan prospeknya cerah/terdapat sentimen positif tertentu terkait perusahaan atau sektornya. Contohnya Occidental Petroleum (OXY) yang sahamnya juga dimiliki oleh Opa Warren, yang disepanjang tahun 2022 menghasilkan profit +117.3% (sahamnya naik dari $29 ke $63) belum termasuk dividen, dan itu selaras dengan kinerja perusahaan yang cetak laba bersih $12.4 miliar, lompat dibanding $1.5 miliar di tahun 2021, seiring dengan kenaikan harga minyak dunia ketika itu, dan memang valuasi OXY pada harga $29 itu tergolong murah dengan PBV hanya 1 koma sekian kali. Demikian pula saham jagoan Opa Warren yang lain yakni Chevron Corp (CVX), yang juga naik +53.0% di sepanjang tahun 2022 seiring lompatan kinerjanya imbas kenaikan harga minyak ketika itu.

Logo OXY. Sumber: GetLogo.net

Intinya sih, seperti halnya tidak semua saham US naik dalam situasi bull market seperti sekarang, contohnya ya saham OXY dan CVX itu tadi yang justru turun di sepanjang tahun 2024 ini seiring penurunan harga minyak, maka juga tidak semua saham US turun dalam situasi bear market seperti di tahun 2022 lalu, melainkan akan selalu ada perusahaan berkinerja bagus yang sahamnya tetap mampu naik sendiri. Jadi katakanlah kita menganggap bahwa di tahun 2025 nanti SPX dkk akan turun, maka itu bukan berarti kita jual seluruh saham lalu full cash, karena bahkan Opa Warren pun tidak menjual seluruh sahamnya. Melainkan, kita tetap bisa beli saham-saham yang kinerjanya masih tumbuh signifikan, prospek kedepannya cerah, dan tentunya valuasinya masih murah, lalu hold saja sampai akhir tahun. That way, kita akan tetap profit besar.

Tinggal pertanyaannya sekarang, saham-saham US apa saja yang kira-kira bisa naik sendiri di tahun 2025 nanti, bahkan jika Dow Jones dkk turun? Well karena tulisan kali ini sudah cukup panjang maka kita akan bahas itu minggu depan. Just stay tune!

***

Jadwal Seminar Tatap Muka How to Invest in US Stock, Jakarta, Sabtu 18 Januari 2025, pukul 11.00 – 17.00 WIB. Untuk mendaftar klik disini.

Dapatkan postingan terbaru dari blog ini via email. Masukkan alamat email anda di kotak dibawah ini, lalu klik subscribe

Saya Masih Hold Saham ADRO, Sekarang Bagaimana??

Saya Masih Hold Saham ADRO, Sekarang Bagaimana??

Pada ulasan sebelumnya disini, penulis mengatakan bahwa jika anda sebagai pemegang saham PT Adaro Energy Indonesia, yang sekarang berubah nama menjadi PT Alamtri Resources Indonesia, Tbk (ADRO), memilih untuk tetap hold sahamnya, maka anda akan memperoleh dividen sebesar Rp1,358 per saham sekaligus right (hak) untuk membeli saham PT Adaro Andalan Indonesia, Tbk (AADI) pada harga beli yang akan ditentukan kemudian. Dan jika demikian maka terdapat peluang bahwa anda akan profit besar, tapi risikonya juga tidak kalah besarnya, karena di sisi lain hampir pasti saham ADRO itu sendiri akan langsung jatuh setelah tanggal cum-nya di 26 November. And indeed, tanpa ba bi bu saham ADRO langsung anjlok pada tanggal 28 dan 29 November kemarin hingga sempat menyentuh 2,070, sebelum sekarang naik lagi ke posisi 2,360, tapi tetap itu terhitung turun sangat jauh dibanding posisi harganya pada tanggal cum yakni 3,670.

***

Ebook Market Planning edisi Desember 2024 yang berisi analisis IHSG, rekomendasi saham, info jual beli saham, dan update strategi investasi bulanan sudah terbit. Anda bisa memperolehnya disini, gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio untuk member.

***

Sehingga pertanyaannya sekarang, selanjutnya bagaimana? Apakah saya tetap hold ADRO ini tunggu sampai dia naik lagi, atau jual saja? Lalu bagaimana caranya kalau saya hendak menebus/membeli saham AADI menggunakan right yang saya miliki? Nah, mari kita jawab itu satu per satu.

Pertama-tama seperti disampaikan sebelumnya, pasca melepas AADI yang merupakan anak usaha terbesarnya dan sekaligus bayar dividen sangat besar senilai total Rp41.8 triliun, maka ADRO sekarang sudah menjadi ‘perusahaan kosong’, yang itu artinya sahamnya sudah tidak punya alasan lagi untuk naik, sehingga cepat atau lambat anda harus menjualnya. Well, sebenarnya kurang tepat jika disebut kosong karena masih ada ADMR disitu, tapi tetap saja ekuitas perusahaan anjlok signifikan karena pembayaran dividennya itu tadi.

Nah, tapi di sisi lain jangan lupa bahwa anda juga sudah fix terima dividen jumbo Rp1,358 per saham. Sehingga jika anda jual ADRO pada harganya saat ini yakni 2,360, maka itu sama seperti anda menjualnya pada harga 2,360 + 1,358 = 3,718. Therefore, kecuali jika anda kemarin membeli saham ADRO pada harga 3,700 atau lebih tinggi, maka jika anda jual saham ADRO pada harganya saat ini maka posisinya masih profit, dan itu bahkan belum memperhitungkan potensi profit tambahan dari kenaikan saham AADI, yang juga bisa anda beli nanti.

Di sisi lain jika benar saham AADI akan langsung naik ketika dia melantai pada tanggal 5 Desember nanti, maka secara psikologis itu bisa juga membuat saham ADRO ikut naik, mungkin sampai 2,400 atau lebih tinggi. Jadi anda boleh juga tidak buru-buru melepas ADRO, melainkan tunggu dulu barang beberapa hari. Just remember bahwa jika memperhitungkan dividennya, maka posisi anda saat ini sebenarnya masih profit kok.

Oke lanjut. Pada tanggal 29 November kemarin ADRO juga sudah merilis prospektus penawaran umum pemegang saham (PUPS) untuk saham AADI, dengan inti informasi sebagai berikut. Pertama, anda sebagai pemegang saham ADRO akan mendapatkan right atau hak untuk membeli saham AADI. Jadi sekarang coba cek lagi portofolio anda, maka disitu akan muncul ‘saham baru’ dengan kode AADI-R, yang bukan merupakan saham melainkan right itu tadi, yang bisa anda gunakan untuk membeli saham AADI itu sendiri.

Kedua, rasio right-nya adalah 4,389 banding 1,000, di mana jika anda pegang ADRO sebanyak 4,389 lot maka anda akan mendapatkan right untuk membeli saham AADI sebanyak 1,000 lot (kalau pegangnya cuma 439 lot maka dapat right-nya juga hanya 100 lot, demikian seterusnya). Ketiga, harga belinya ditetapkan maksimal Rp5,960, alias sedikit lebih rendah dibanding perkiraan sebelumnya di Rp6,037, tapi masih lebih tinggi dibanding harga IPO AADI itu sendiri di Rp5,550 per saham, dengan selisih yang cukup jauh yakni 7.4%. Keempat, anda bisa menggunakan right yang anda pegang untuk menebus saham AADI mulai hari Jumat, 6 Desember 2024, hingga paling lambat hari Selasa, 10 Desember 2024. Jadi anda hanya punya waktu tiga hari (Jumat, Senin, Selasa), di mana jika anda tidak menebus saham AADI maka right yang anda pegang akan hangus/hilang dengan sendirinya dari rekening anda pada hari Rabu, 11 Desember. Dan kelima, right yang anda miliki tidak dapat dijual. Jadi anda hanya bisa menggunakannya untuk menebus saham AADI, entah itu sebagian atau seluruhnya (jika anda mendapat 1,000 lembar right maka bukan berarti anda harus beli 1,000 lembar saham AADI, melainkan belinya kurang dari itu juga boleh), atau jika seluruh right tersebut dibiarkan hangus maka itu juga boleh.

Jadi pertanyaannya sekarang, lebih baik saya tebus saham AADI, atau gak usah? Nah, kabar baiknya AADI itu sendiri akan melantai di BEI pada tanggal 5 Desember pada harga perdana 5,550, jadi anda tinggal lihat apakah pada hari itu harga sahamnya ditutup naik atau turun? Jika saham AADI ternyata naik ke katakanlah 6,000 – 6,500, maka besoknya pada tanggal 6 Desember anda bisa langsung tebus sahamnya di harga 5,960 (kalau bingung cara tebusnya maka boleh telpon pihak sekuritas dan nanti mereka akan bantu, tapi seharusnya caranya sama saja seperti kalau anda mau beli saham biasa), lalu kemudian jual di harga 6,000 – 6,500 tersebut, sehingga anda akan profit. Atau kalau mau tetap hold juga boleh, siapa tahu harganya akan lanjut naik. Di sisi lain jika saham AADI ternyata turun atau tidak banyak berubah dari harga perdananya di 5,550 pada tanggal 5 Desember tersebut, maka ya sudah anda tidak perlu tebus sahamnya dan biarkan saja right yang anda pegang itu hangus, toh anda sejak awal sudah profit dari dividen yang diterima sebelumnya.

Tinggal satu hal: Jika anda memilih untuk menebus saham AADI, maka anda akan menerima saham AADI tersebut di rekening sekuritas anda pada tanggal 9 – 11 Desember. Dan penulis sudah baca prospektusnya, ternyata tidak ada skema lock up bagi investor publik yang membeli saham AADI melalui mekanisme PUPS ini. Atau dengan kata lain, anda bisa langsung jual lagi saham AADI itu segera setelah anda menerimanya. Yang itu artinya? Yup, saham AADI berisiko untuk langsung turun pada tanggal 9 – 11 Desember tersebut, tak peduli berapapun posisi harganya saat itu, yakni karena ada banyak investor publik yang langsung menjual saham AADI yang mereka pegang.

Sehingga, meskipun anda bisa profit besar jika memilih untuk menebus AADI, dalam hal ini jika harga sahamnya langsung naik tinggi setelah IPO-nya pada tanggal 5 Desember, tapi tetap terdapat risiko bahwa anda justru akan merugi, yakni jika saham AADI langsung turun lagi pada tanggal 9 – 11 Desember, dan belum tentu setelah itu dia akan naik lagi karena, seperti yang kita bahas kemarin, kinerja laba bersih AADI hampir pasti akan turun dalam di tahun 2025 nanti.

Nah, jadi bagaimana? Anda bakal tebus atau tidak?

***

Ebook Investment Planning berisi kumpulan 30 analisa saham pilihan edisi Q3 2024 sudah terbit! Dan sudah bisa dipesan disini, gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio, langsung dengan penulis.

Dapatkan postingan terbaru dari blog ini via email. Masukkan alamat email anda di kotak dibawah ini, lalu klik subscribe

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia

Broker Kripto

Tempo Doeloe

Olahan Makanan

Ulasan Film

Keimanan dan Keyakinan

Top Bisnis Online

Tips dan Trik